Daerah  

Program-Jemput Gabah-Bulog Bulukumba Disebut Omong Kosong, Mitra Penggilingan Terancam Rugi Total

Oplus_16908288

BULUKUMBA,JEJAKPANRITA.COM_ Kebijakan Perum Bulog Cabang Bulukumba kini tengah mendapat sorotan tajam dari para pelaku usaha perberasan. Program “Jemput Gabah” yang sebelumnya digemborkan oleh Pimpinan Cabang (Pinca) Perum Bulog Bulukumba dinilai hanya sekadar janji manis tanpa realisasi nyata di lapangan.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan darurat antara mitra penggilingan jasa maklon dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Bulukumba yang digelar di Cafe Ris, Jumat (22/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, para pengusaha penggilingan secara terbuka meluapkan kekecewaannya dan menyebut program tersebut sebagai “omong kosong”.

Minim Koordinasi, PPL dan Babinsa Kebingungan.Indikasi tidak jalannya program ini terungkap saat sejumlah mitra penggilingan mencoba menindaklanjuti program tersebut ke tingkat bawah. Saat menghubungi Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan Babinsa setempat, para petugas justru mengaku sama sekali tidak tahu-menahu mengenai adanya program “Jemput Gabah”.

Hingga saat ini, belum ada perintah formal maupun koordinasi resmi yang dilakukan oleh pihak Bulog Bulukumba kepada instansi terkait di lapangan.
Dampak dari macetnya realisasi janji Pinca Bulog ini sangat fatal. Banyaknya gabah yang tidak terserap di lapangan kini mulai memicu kegelisahan luar biasa di kalangan mitra penggilingan.

**Ancaman Kerugian dan Masalah Beras TMS**
Mitra penggilingan kini dihadapkan pada posisi buah simalakama. Jika gabah yang telanjur dipanen tidak segera dijemput dan diambil oleh Bulog, maka kondisi kualitas gabah dipastikan akan mengalami kerusakan.

“Jika kami dipaksa membeli gabah dalam kondisi rusak, hasil gilingannya nanti pasti jelek atau Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Hal ini berpotensi besar menimbulkan kerugian total di pihak mitra penggilingan karena produknya pasti akan ditolak,” keluh salah satu perwakilan mitra penggilingan.

Menanggapi carut-marut ini, Ketua Dewan Pakar Perpadi Bulukumba, Muh Darwis, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa Pinca Bulog Bulukumba harus segera ditagih janjinya dan bertanggung jawab penuh atas situasi ini.

Terkait persoalan beras yang dinyatakan TMS akibat keterlambatan penyerapan, Darwis meminta agar Bulog segera mencarikan solusi konkret, mengingat gabah tersebut pada dasarnya adalah murni milik Bulog.

“Sungguh tidak adil jika beras yang mutunya bagus saja yang dibeli, lalu yang lainnya (yang turun mutu akibat keterlambatan penyerapan) ditolak. Ini sangat merugikan pihak penggilingan,” tegas Muh Darwis.

**Tuntutan Mitra Penggilingan**
Melalui forum ini, para mitra penggilingan dan Perpadi Bulukumba melayangkan tuntutan keras kepada Pimpinan Cabang Perum Bulog Bulukumba untuk:
1. **Segera merealisasikan janji** dan mengonkritkan koordinasi program “Jemput Gabah” dengan pihak PPL dan Babinsa di lapangan secara nyata.
2. **Memberikan solusi berkeadilan** terkait penyerapan gabah/beras agar dampak penurunan mutu akibat kelalaian sistemik ini tidak dibebankan sebagai kerugian finansial bagi pelaku usaha penggilingan kecil.

Jika tidak ada tindakan cepat dari manajemen Perum Bulog Bulukumba, dikhawatirkan rantai pasok dan stabilitas pangan di daerah akan terganggu akibat mandeknya operasional kemitraan di tingkat hilir.