Pengunjung Wisata Tenggelam di Apparalang, GISK Soroti Lemahnya Pengawasan dan Minimnya Standar Keamanan 

Bulukumba,Jejakpanrita.com – Insiden tenggelamnya pengunjung wisata kembali menjadi sorotan publik. Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Intelektual Satu Komando (GISK) menilai bahwa peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan bukti nyata lemahnya sistem pengawasan dan kurangnya perhatian terhadap keselamatan pengunjung di lokasi wisata Apparalang,Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba

Pengurus Dewan Pimpinan Provinsi Lembaga Gerakan Intelektual Satu Komando GISK yakni Supriadi,menegaskan bahwa pengelola wisata dan pihak terkait seharusnya tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga wajib memastikan standar keamanan yang ketat. Minimnya petugas penjaga, kurangnya rambu peringatan, serta tidak tersedianya alat keselamatan menjadi faktor yang kerap diabaikan.

“Jangan sampai tempat wisata berubah menjadi tempat duka. Ini bukan takdir semata, tapi kelalaian yang terus dibiarkan terjadi,” tegas Supriadi

Menurut Supriadi, kejadian serupa yang terus berulang menunjukkan adanya pembiaran sistematis. Pengawasan yang lemah serta kurangnya edukasi kepada wisatawan menjadi kombinasi berbahaya yang berpotensi merenggut nyawa.

GISK mendesak pemerintah dan pengelola wisata untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk:
Penambahan petugas pengawas di area rawan Penyediaan alat keselamatan yang memadai Pemasangan rambu peringatan yang jelas edukasi keselamatan bagi pengunjung

“Keselamatan wisatawan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas. Jika tidak ada perubahan nyata, maka kejadian serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali,” tambahnya.

Kejadian tersebut juga mendapatkan sorotan tajam dari Ketua Umum Lembaga GISK.

Menurut Ketum GISK,berapa nyawa lagi yang harus melayang sebelum ada tindakan nyata? Jangan jadikan keselamatan sebagai pelengkap penderita dalam industri wisata.
Ini bukan sekadar kecelakaan, ini adalah bentuk kelalaian yang dipelihara. Ketika pengawasan lemah, maka tragedi adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.
Jika pengelola hanya mengejar keuntungan tanpa menjamin keselamatan, maka itu bukan pariwisata,itu eksploitasi yang mempertaruhkan nyawa manusia.

“Kami melihat ada pembiaran yang sistematis. Ketika kejadian serupa terus berulang, itu bukan lagi musibah, tapi kegagalan yang disengaja,”Ungkap Ketua Umum GISK Andi Riyal dengan nada tegas

Negara tidak boleh absen! Ketika pengawasan lemah dan standar keselamatan diabaikan, maka negara ikut bertanggung jawab atas setiap korban.
Jangan tunggu viral baru bergerak. Nyawa manusia bukan konten, dan tragedi bukan bahan evaluasi yang datang terlambat.
Jika tidak ada sanksi tegas hari ini, maka kita sedang membuka pintu bagi tragedi berikutnya,”Tutup Riyal