Daerah  

Politeknik Indonesia Dorong UMKM Kue Tradisional Gowa Naik Kelas Melalui Digitalisasi Berbasis AI

Makassar,Jejakpanrita.com_Upaya mendorong transformasi usaha mikro berbasis teknologi terus dilakukan kalangan perguruan tinggi. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Indonesia melaksanakan program bertajuk “Pendampingan Digitalisasi Usaha Berbasis AI.Senin 24 Agustus 2026

Penguatan Produksi, dan Literasi Keuangan Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional di Kabupaten Gowa, sebagai bentuk komitmen perguruan tinggi dalam meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro di era digital.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kabupaten Gowa dengan menggandeng Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional yang diketuai oleh Hj. Nurbiah Dg. Caya sebagai mitra utama.

Kelompok usaha tersebut telah lama memproduksi beragam kuliner tradisional khas Bugis–Makassar, seperti putu kacang, ote’ote’re’, serta berbagai jenis kue tradisional lainnya yang diproduksi di kawasan Jalan Karaeng Loe Sero, Kabupaten Gowa.

Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai melalui Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) dan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (RISBANG), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.

Tim pengabdian dipimpin oleh Mochammad Fadhil Abdullah sebagai ketua, dengan anggota Wahyuni dan Yogi Hady Afrizal. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa Politeknik Indonesia yang berperan sebagai pendamping lapangan sekaligus membantu proses dokumentasi dan implementasi program di lokasi mitra.

Ketua Tim Pengabdian, Mochammad Fadhil Abdullah, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produksi, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar mampu meningkatkan nilai tambah produk serta memperluas akses pasar.

“UMKM tidak cukup hanya menghasilkan produk yang berkualitas. Di era digital, pelaku usaha juga harus memiliki identitas merek yang kuat, pencatatan keuangan yang baik, serta kemampuan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pemasaran. Karena itu, kami menghadirkan pendampingan yang bersifat menyeluruh, mulai dari produksi, digitalisasi usaha hingga literasi keuangan,” ujarnya.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap agar proses pendampingan berjalan efektif dan berkelanjutan. Tahapan pertama diawali dengan sosialisasi program yang bertujuan membangun pemahaman bersama, menyamakan persepsi, serta memperkuat komitmen antara tim pelaksana dan mitra terhadap seluruh rangkaian kegiatan.

Tahap berikutnya berupa pelatihan peningkatan kapasitas, yang difokuskan pada, manajemen pengelolaan usaha, pemanfaatan teknologi digital, hingga pengelolaan keuangan sederhana.

Selanjutnya, tim melaksanakan tahap penerapan teknologi dan inovasi melalui pendampingan langsung kepada mitra dalam mengimplementasikan hasil pelatihan pada aktivitas usaha sehari-hari.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program ini adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu proses branding usaha.

Melalui teknologi AI, mitra memperoleh pendampingan dalam pembuatan logo usaha dan desain stiker produk yang sebelumnya belum dimiliki. Kehadiran identitas visual tersebut diharapkan mampu meningkatkan citra produk sehingga lebih kompetitif di pasar modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat pada kuliner tradisional.

Selain itu, tim juga membantu mitra menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi sederhana sebagai pedoman dalam proses pembuatan kue tradisional. SOP tersebut menjadi acuan untuk menjaga kualitas, kebersihan, konsistensi rasa, ukuran produk, serta efisiensi proses produksi sehingga menghasilkan produk yang lebih seragam dan memiliki standar mutu yang lebih baik.

Pada aspek pengelolaan usaha, mitra memperoleh pendampingan penggunaan aplikasi pencatatan keuangan digital sederhana untuk mencatat transaksi harian, pemasukan, pengeluaran, hingga arus kas usaha. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara lebih tertib sehingga memudahkan proses evaluasi maupun pengembangan usaha di masa mendatang.

Tidak hanya itu, program juga memperkuat kapasitas pemasaran digital melalui pembuatan dan aktivasi akun media sosial usaha. Sebelum program berlangsung, kelompok usaha belum memiliki media promosi digital yang dikelola secara khusus. Setelah dilakukan pendampingan, mitra mulai memanfaatkan media sosial sebagai etalase digital untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan pelanggan, serta memperluas jangkauan pemasaran hingga di luar wilayah Kabupaten Gowa.

Ketua Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional, Hj. Nurbiah Dg. Caya, mengapresiasi program yang dilaksanakan Politeknik Indonesia. Menurutnya, pendampingan tersebut memberikan pengetahuan baru yang sangat dibutuhkan pelaku usaha, terutama dalam menghadapi perubahan pola pemasaran